Kamis, 26 November 2015

Tentang Cinta : Part II



Sesampainya di tempat pertemuan, Mall Lippo Cikarang, langsung ku kabari ia bahwa aku telah sampai dan menunggunya di Toko Buku Salemba. Aku sengaja menunggu ditoko buku supaya bisa sekalian cek barangkali ada buku baru atau jika ada buku yang ku suka aku dapat langsung membelinya.
Aku mulai
menelusuri rak-rak buku disana. Rak pertama yang aku hampiri adalah rak buku dengan kumpulan novel-novel bernuansa islami. Sambil melihat-lihat buku, sesekali aku melirik ponsel ku, barangkali ada pesan ataupun panggilan masuk. Namun, beberapa kali dilirik tidak ada tanda apapun. Akhirnya ku larutkan diriku bersama jutaan buku-buku yang tersusun rapi disana.
Satu menit.. dua menit.. tiga menit.. empat menit... dan menit-menitpun mulai berlalu.
Aku masih asik dengan beberapa novel tak bersampul plastik, yang sedang kubaca . Setelah sadar aku yang tengah menunggu seseorang, barulah ku cek kembali ponsel yang ada di genggaman tanganku. Beberapa sms dan misscall menambah icon di layar ponselku. Ternyata orang itu sudah berusaha menghubungiku beberapa kali dan mengabarkan padaku bahwa ia sudah tiba di Mall. Pesan lainnya mengatakan kini dia sudah berada di depan pintu masuk toko buku tersebut. Ya Allah...aku lupa. Ucapku. Aku pun segera membalas pesannya dan menyuruhnya untuk masuk menemuiku didalam toko buku.
Ku arahkan pandangan kesetiap penjuru toko untuk mencarinya. Kulihat seorang lelaki dewasa berperawakan tinggi dengan ukuran tubuh yang porposional, kulit berwarna sawo matang, rambut hitam dan mengenakan kemeja kerja perusahaan berwarna hijau pudar dengan paduan celana jeans dan sepatu savety ala proyek, memasuki toko dengan langkah tergesa.  Ah sepertinya bukan itu. Batinku. Aku pun mulai mengarahkan pandangan kearah lain.
Satu pesan masuk darinya, yang menanyakan keberadaanku saat itu. Ku balas pesannya, bahwa aku berada dibagian kumpulan buku pisikologi. Belum ada 5 menit setelah ku balas pesanya, seseorang berjalan mendekat ke arahku. Aku pun menoleh ke sebelah kiri dan kudapati seorang lelaki berdiri tegap di dihadapanku. Sepertinya aku pernah melihat orang ini, batinku.
Orang itu tersenyum kepadaku, seraya bertannya “Apakah kamu Melia ?” spontan aku menjawab ya dan balik bertanya “ kamu, Kus ?”. Dia mengangguk dan tersenyum lalu menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan denganku sebagai tanda perkenalan pertama kami. Namun, segera ku katupkan kedua tanganku sambil mengangguk perlahan dan membiarkan tangannya mengudara untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, diapun mengatupkan tangannya dan tersenyum simpul.
Merasa kikuk, akhirnya dia mengajakku makan siang. Aku bilang padanya bahwa aku sudah makan siang dirumah. Ku pikir tidak mungkin aku makan siang dua kali, perutku akan sangat kenyang nanti. JCO Donut’s menjadi pilihan kami. Ditemani dengan 3 buah donat dan 2 minuman semacam ice capucino latte menemani obrolan kami. Waktu sudah menjelang sore dan diluar sedang turun hujan. Mungkin lebih tepat minuman coklat panas yang kami pesan, menghangatkan tubuh yang mulai terasa dingin.
Di awal pembicaraan dia mengungkapkan permohonan maaf karna sudah membuatku menunggu agak lama, di jalan hujan dan dia tidak mungkin pergi menggunakan motor, jadi dia meminjam mobil proyek. Ya, aku tak persoalkan itu tokh aku merasa tidak menunggu lama karena larut dalam ribuan buku yang dapat ku baca J.
Aku juga meminta maaf karena sempat kesulitan untuk dihubungi, hingga dia mengira aku hanya bergurau unuk menemuinya. Namun, setelah kuceritakan kejadian diperjalanan tadi yang merupakan sebuah perjuangan untuk menemuinya, jelas aku telah mematahkan sangkaannya terhadapku.
Sambil mengobrol, kuperhatikan gaya bicara dan apa yang dibicarakannya. Ku lihat dari gaya bicaranya dia sopan dan ramah. Apa yang kita bicarakan juga saling menyambung. Oh ya, Teringat ketika diawal perkenalan tadi, ku mulai bertanya tentang identitas dirinya. Entah mungkin aku yang seolah menyelidik atau dia yang terlalu sensitif dan perasa, sampai-sampai memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya untuk meyakinkan ku bahwa dia tidak berbohong dengan identitas dirinya. Lucu juga memang, karena baru kali ini aku bertemu lelaki yang sangat menjaga dirinya agar tidak di cap sebagai pembohong diawal pertemuan. Bagus. Itu tandanya lelaki yang kutahu usianya lebih dewasa dariku ini adalah orang yang dapat dipercaya. Satu poin plus.
Setelah kudapan yang ada di meja habis. Tak lama aku pun pamit pulang (SMP* sekali ya, he he). Kurasa cukup pertemuan kita saat itu, waktu pun semakin sore dan aku harus segera pulang. Dia juga harus kembali ke proyek tempat dia bekerja.
Dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Aku sempat menolak, ku pikir aku pulang naik angkutan umum saja. Namun, mengingat diluar hujan dan kebetulan kita pun searah. Jadi, tak ada salahya menerima tawarannya.
Kita pun pulang bersama. Satu hal menarik. Ketika ku lihat didalam mobil nya terdapat banyak makanan snack dan minuman segar. Sepertinya orang ini suka ngemil. Kataku dalam hati.
Tak lama dia berkata, “Ayo dibuka saja snack nya, itu Kapu yang sengaja membelikan, untuk menemaniku saat diperjalanan katanya.”
Aku hanya tersenyum dan berkata “Tidak. Terimakasih.”
Disepanjang perjalanan kita banyak bercerita tentang pekerjaan. Hingga tak terasa sudah hampir sampai ketempat tujuan. Aku meminta dia untuk mengantar hanya sampai pintu masuk perumahan, tepat di depan pos seccurity. Dia sempat heran, mengapa tidak sampai rumah saja, sedikit lagi juga sampai. Tapi, aku tetap meminta agar mengantarku cukup sampai pos saja.
Jujur saja pada saat itu aku belum siap membawa teman laki-laki ke rumah lagi, semenjak kejadian beberapa waktu lalu. Beberapa teman lelaki yang sempat mengantar ke rumah setelahnya selalu enggan untuk menemuiku lagi dan selalu berujung dengan hilang komunikasi antara kami. Ya. Secara tidak langsung aku selalu mengharap lebih kepada teman lelaki yang kuijinkan mengantar kerumah. Karena, lelaki yang dapat mengantarku sampai ke depan rumah itu hanya lelaki pilihan yang ku rasa baik perilaku maupun gaya berbusananya. Karena aku menghormati kedua orangtuaku.
Akhirnya dia pun menurutiku karena aku memaksa untuk tidak diantar sampai depan rumah. Hujan tinggal menyisakan gerimis, bau tanah basah setelah terguyur hujan cukup lebat . Udara yang terhirup menyeruak begitu segar dan menyejukan. Aku pamit dan berjalan menuju blok rumahku. Security yang ada di pos memperhatikan kami. Mungkin mereka mengira kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar atau sepasang kekasih yang menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi, dan apapun yang mereka pikirkan aku tak peduli. Yang ku pikirkan saat itu bahwa aku belum siap mengajaknya ke rumah. Karena aku masih trauma dengan kejadian diwaktu lalu.
Aku masih beranggapan, bahwa sulit menemukan orang yang dapat menerima kita apa adanya. Itu kenapa aku takut dia pun akan seperti teman lelakiku yang lainnya. Setelah mereka tau latar belakang ku dan keluargaku yang sangat apa adanya, mereka perlahan menjauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar