Sesampainya di tempat pertemuan,
Mall Lippo Cikarang, langsung ku kabari ia bahwa aku telah sampai dan menunggunya
di Toko Buku Salemba. Aku sengaja menunggu ditoko buku supaya bisa sekalian cek
barangkali ada buku baru atau jika ada buku yang ku suka aku dapat langsung
membelinya.
Aku mulai
menelusuri rak-rak buku
disana. Rak pertama yang aku hampiri adalah rak buku dengan kumpulan
novel-novel bernuansa islami. Sambil melihat-lihat buku, sesekali aku melirik
ponsel ku, barangkali ada pesan ataupun panggilan masuk. Namun, beberapa kali
dilirik tidak ada tanda apapun. Akhirnya ku larutkan diriku bersama jutaan
buku-buku yang tersusun rapi disana.
Satu menit.. dua menit.. tiga
menit.. empat menit... dan menit-menitpun mulai berlalu.
Aku masih asik dengan beberapa
novel tak bersampul plastik, yang sedang kubaca . Setelah sadar aku yang tengah
menunggu seseorang, barulah ku cek kembali ponsel yang ada di genggaman
tanganku. Beberapa sms dan misscall menambah icon di layar ponselku. Ternyata
orang itu sudah berusaha menghubungiku beberapa kali dan mengabarkan padaku
bahwa ia sudah tiba di Mall. Pesan lainnya mengatakan kini dia sudah berada di
depan pintu masuk toko buku tersebut. Ya Allah...aku lupa. Ucapku. Aku pun
segera membalas pesannya dan menyuruhnya untuk masuk menemuiku didalam toko
buku.
Ku arahkan pandangan kesetiap penjuru
toko untuk mencarinya. Kulihat seorang lelaki dewasa berperawakan tinggi dengan
ukuran tubuh yang porposional, kulit berwarna sawo matang, rambut hitam dan
mengenakan kemeja kerja perusahaan berwarna hijau pudar dengan paduan celana
jeans dan sepatu savety ala proyek, memasuki toko dengan langkah tergesa. Ah sepertinya bukan itu. Batinku. Aku pun
mulai mengarahkan pandangan kearah lain.
Satu pesan masuk darinya, yang
menanyakan keberadaanku saat itu. Ku balas pesannya, bahwa aku berada dibagian
kumpulan buku pisikologi. Belum ada 5 menit setelah ku balas pesanya, seseorang
berjalan mendekat ke arahku. Aku pun menoleh ke sebelah kiri dan kudapati
seorang lelaki berdiri tegap di dihadapanku. Sepertinya aku pernah melihat
orang ini, batinku.
Orang itu tersenyum kepadaku, seraya
bertannya “Apakah kamu Melia ?” spontan aku menjawab ya dan balik bertanya “
kamu, Kus ?”. Dia mengangguk dan tersenyum lalu menyodorkan tangan kanannya
untuk berjabat tangan denganku sebagai tanda perkenalan pertama kami. Namun, segera
ku katupkan kedua tanganku sambil mengangguk perlahan dan membiarkan tangannya
mengudara untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, diapun mengatupkan tangannya
dan tersenyum simpul.
Merasa kikuk, akhirnya dia
mengajakku makan siang. Aku bilang padanya bahwa aku sudah makan siang dirumah.
Ku pikir tidak mungkin aku makan siang dua kali, perutku akan sangat kenyang
nanti. JCO Donut’s menjadi pilihan kami. Ditemani dengan 3 buah donat dan 2
minuman semacam ice capucino latte menemani obrolan kami. Waktu sudah menjelang
sore dan diluar sedang turun hujan. Mungkin lebih tepat minuman coklat panas
yang kami pesan, menghangatkan tubuh yang mulai terasa dingin.
Di awal pembicaraan dia mengungkapkan
permohonan maaf karna sudah membuatku menunggu agak lama, di jalan hujan dan
dia tidak mungkin pergi menggunakan motor, jadi dia meminjam mobil proyek. Ya,
aku tak persoalkan itu tokh aku
merasa tidak menunggu lama karena larut dalam ribuan buku yang dapat ku baca J.
Aku juga meminta maaf karena
sempat kesulitan untuk dihubungi, hingga dia mengira aku hanya bergurau unuk
menemuinya. Namun, setelah kuceritakan kejadian diperjalanan tadi yang
merupakan sebuah perjuangan untuk menemuinya, jelas aku telah mematahkan
sangkaannya terhadapku.
Sambil mengobrol, kuperhatikan
gaya bicara dan apa yang dibicarakannya. Ku lihat dari gaya bicaranya dia sopan
dan ramah. Apa yang kita bicarakan juga saling menyambung. Oh ya, Teringat
ketika diawal perkenalan tadi, ku mulai bertanya tentang identitas dirinya.
Entah mungkin aku yang seolah menyelidik atau dia yang terlalu sensitif dan
perasa, sampai-sampai memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya untuk
meyakinkan ku bahwa dia tidak berbohong dengan identitas dirinya. Lucu juga
memang, karena baru kali ini aku bertemu lelaki yang sangat menjaga dirinya
agar tidak di cap sebagai pembohong diawal pertemuan. Bagus. Itu tandanya
lelaki yang kutahu usianya lebih dewasa dariku ini adalah orang yang dapat
dipercaya. Satu poin plus.
Setelah kudapan yang ada di meja
habis. Tak lama aku pun pamit pulang (SMP* sekali ya, he he). Kurasa cukup
pertemuan kita saat itu, waktu pun semakin sore dan aku harus segera pulang.
Dia juga harus kembali ke proyek tempat dia bekerja.
Dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Aku
sempat menolak, ku pikir aku pulang naik angkutan umum saja. Namun, mengingat
diluar hujan dan kebetulan kita pun searah. Jadi, tak ada salahya menerima
tawarannya.
Kita pun pulang bersama. Satu hal
menarik. Ketika ku lihat didalam mobil nya terdapat banyak makanan snack dan
minuman segar. Sepertinya orang ini suka ngemil. Kataku dalam hati.
Tak lama dia berkata, “Ayo dibuka
saja snack nya, itu Kapu yang sengaja membelikan, untuk menemaniku saat
diperjalanan katanya.”
Aku hanya tersenyum dan berkata
“Tidak. Terimakasih.”
Disepanjang perjalanan kita banyak
bercerita tentang pekerjaan. Hingga tak terasa sudah hampir sampai ketempat
tujuan. Aku meminta dia untuk mengantar hanya sampai pintu masuk perumahan,
tepat di depan pos seccurity. Dia sempat heran, mengapa tidak sampai rumah saja,
sedikit lagi juga sampai. Tapi, aku tetap meminta agar mengantarku cukup sampai
pos saja.
Jujur saja pada saat itu aku belum
siap membawa teman laki-laki ke rumah lagi, semenjak kejadian beberapa waktu
lalu. Beberapa teman lelaki yang sempat mengantar ke rumah setelahnya selalu enggan
untuk menemuiku lagi dan selalu berujung dengan hilang komunikasi antara kami.
Ya. Secara tidak langsung aku selalu mengharap lebih kepada teman lelaki yang
kuijinkan mengantar kerumah. Karena, lelaki yang dapat mengantarku sampai ke
depan rumah itu hanya lelaki pilihan yang ku rasa baik perilaku maupun gaya
berbusananya. Karena aku menghormati kedua orangtuaku.
Akhirnya dia pun menurutiku karena
aku memaksa untuk tidak diantar sampai depan rumah. Hujan tinggal menyisakan
gerimis, bau tanah basah setelah terguyur hujan cukup lebat . Udara yang
terhirup menyeruak begitu segar dan menyejukan. Aku pamit dan berjalan menuju
blok rumahku. Security yang ada di pos memperhatikan kami. Mungkin mereka
mengira kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar atau sepasang
kekasih yang menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi, dan apapun yang mereka
pikirkan aku tak peduli. Yang ku pikirkan saat itu bahwa aku belum siap
mengajaknya ke rumah. Karena aku masih trauma dengan kejadian diwaktu lalu.
Aku masih beranggapan, bahwa sulit
menemukan orang yang dapat menerima kita apa adanya. Itu kenapa aku takut dia
pun akan seperti teman lelakiku yang lainnya. Setelah mereka tau latar belakang
ku dan keluargaku yang sangat apa adanya, mereka perlahan menjauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar